A Relationship (being a women)
Beberapa hari ini, gue kepikiran tentang satu hal yang kelihatannya sepele tapi ternyata dalem banget: jadi perempuan dan punya hubungan — entah itu dengan orang lain, dengan pasangan, atau bahkan dengan diri sendiri. Terutama soal status.
Being single, married, in a relationship, divorced, atau apapun pilihannya... kayaknya selalu ada label, selalu ada tekanan sosial. Padahal jujur aja, semuanya punya sisi enak dan gak enaknya.
Being single, misalnya. Lo punya ruang sebesar-besarnya buat ngejar mimpi, eksplor diri, belajar, tumbuh, dan ya... jadi lo seutuhnya. No strings attached. Bebas banget. Tapi kadang juga sepi, kadang capek ngadepin dunia sendiri.
Sementara menikah, dari luar keliatan adem: lo punya partner yang nemenin naik turun hidup, tempat bersandar, orang yang support lo — it sounds cozy, right? Tapi dalam perjalanannya, lo gak cuma mikirin diri sendiri lagi. Ada tanggung jawab, kompromi, dan adaptasi yang gak sedikit.
Yang bikin gue mikir makin dalam adalah ketika gue nonton video-video perempuan hebat — yang milih nikah muda, nikah telat, bahkan gak nikah sama sekali. Mereka semua keren, percaya diri, dan tenang sama pilihannya masing-masing. Dan itu bikin gue sadar, ternyata bukan soal status-nya, tapi soal energi-nya.
Sayangnya, yang bikin lelah itu bukan pilihannya... tapi komentar orang terhadap pilihan itu.
Budaya kita seringkali melihat perempuan cuma dari satu kacamata: status. Nikah dan fokus jadi ibu rumah tangga? Dibilang gak punya penghasilan, gak mandiri, hidupnya bergantung. Nikah tapi tetap kerja dan punya karier? Dibilang terlalu ambisius, anak dan suami gak keurus. Belum nikah atau memilih hidup sendiri? Langsung dicap gak laku, perawan tua, terlalu milih, terlalu mandiri, terlalu ini itu.
Pusing, kan?
Seolah-olah, apapun yang kita pilih... tetap salah di mata sebagian orang. Dan sayangnya, suara-suara ini sering datang dari orang yang bahkan gak berkontribusi apa-apa dalam hidup kita. Mereka gak tahu perjuangan kita, gak tahu proses panjang di balik keputusan yang kita ambil, tapi tetap merasa berhak komentar.
Makanya, menurut gue, kita harus mulai berani nge-set boundaries — bukan untuk membenci budaya atau orang-orang, tapi untuk melindungi ruang aman dalam diri kita. Hidup ini singkat, terlalu sayang kalau kita jalani hanya demi membuktikan sesuatu ke orang lain.
Kita gak perlu validasi dari siapa-siapa buat merasa cukup.
Lo boleh nikah muda. Lo boleh nikah telat. Lo boleh gak nikah sama sekali. Lo boleh jadi ibu rumah tangga. Lo boleh jadi CEO. Lo boleh jadi apapun — selama lo yang memilih itu, dan lo merasa bahagia menjalaninya.
Jadi perempuan itu bukan tentang memenuhi standar satu bentuk kehidupan. Tapi tentang bisa jadi diri sendiri, dengan segala kompleksitas, luka, harapan, dan impian yang lo punya.
Dan percaya deh, perempuan yang berani memilih hidupnya sendiri itu jauh lebih kuat daripada yang hanya sibuk menyenangkan ekspektasi orang lain.
Jadi, kalau hari ini lo masih ragu dengan pilihan lo, ingat aja satu hal:
You are not defined by your relationship status. You are defined by your strength, your choices, and your truth.
I totally agree with your statement.. keep writing!
BalasHapus